"Itu tuh lagu gue!" protes Si A, setengah bercanda, setengah mati-matian mempertahankan martabat seleranya.
Mereka berdua tertawa. Lalu bernyanyi bersama, fals, tanpa peduli. Lain kali kalau temanmu memotong lagu favoritmu, tarik napas dulu. Ingat, masih ada kopi yang dingin dan es teh yang manis. Jangan rusak malam hanya karena sebuah lagu. Tapi kalau dia putar Despacito tiga kali berturut-turut... mungkin saatnya cari tongkrongan baru.
Si C suka metal pagi, si D suka dangdut koplo malam. Si E hanya mau lo-fi hip hop karena katanya buat "nahan galau". Dan ketika satu lagu diputus di tengah jalan—apalagi lagu fenomenal seperti Despacito yang durasinya panjang dan beatnya susah diputus—maka kekacauan total tak terelakkan. Gara-gara Despacito Digilir Teman Setongkrongan...
Malam Jumat di pinggir jalan yang macet. Di bawah satu-satunya lampu taman yang masih menyala, lima anak muda duduk melingkar. Di atas meja kayu lapuk: tiga gelas es teh manis, dua kopi tubruk, dan satu ponsel murahan yang speaker-nya sudah sedikit serak. Suasana damai itu runtuh dalam sekejap. Penyebabnya? Sebuah lagu. Bukan lagu sembarangan. Despacito .
Si C mencoba menjadi penengah. "Sudah, sudah. Kita putar Kisah Kasih di Sekolah saja. Netral." "Itu tuh lagu gue
Namun sistem ini rapuh. Sangat rapuh. Sebab tidak ada dua orang yang memiliki selera musik yang sama persis dalam satu geng.
"Basinya dua tahun lalu, Bang," timpal Si C sambil menyedot es teh hingga keroncongan. Apa yang terjadi setelah Despacito diputar? Perang dingin. Selama 3 menit 47 detik (durasi lagu asli), tidak ada yang berbicara. Si A melipat tangan. Si C memasang headphone sendiri. Si D justru mulai berdansa pelan, membuat posisinya makin tidak populer. Lain kali kalau temanmu memotong lagu favoritmu, tarik
"Iya, tapi udah digilir. Giliran gue sekarang," jawab Si B polos, sambil mengangguk-angguk mengikuti irama Despacito .